“Benar dan salah bukanlah penilaian mutlak, sebab di antaranya ada keliru. Sebuah proses menuju kebenaran, hanya jika hati cukup lapang untuk menerima koreksi” Kita hidup di masa di mana opini sering kali dianggap kebenaran, dan koreksi disamakan dengan serangan. Banyak orang ingin terlihat benar, bukan ingin menemukan yang benar. Padahal, kebenaran sejati tidak pernah lahir dari ego yang menolak kritik, melainkan dari kesediaan untuk mengakui bahwa kita bisa saja keliru. Namun, ada satu hal yang kini semakin sering terjadi kita merasa paling memahami suatu bidang, paling tahu konteks, hingga merasa pihak luar tidak berhak memberi kritik. Padahal bukankah justru kritik yang sehat sering datang dari luar lingkar pandang kita? Dari mereka yang melihat hal-hal yang luput dari perhatian karena kita terlalu tenggelam di dalamnya.Masalahnya, kita sering gagal membedakan antara dikritik dan dihakimi. Dua hal yang berbeda tapi tipis sekali jaraknya. Saat hati dipenuhi prasangka, kritik...
Ketika kedzaliman dibiarkan, ia akan tumbuh seperti api yang melahap habis. Diamnya orang baik adalah bahan bakar paling cepat bagi hancurnya sebuah negeri. Indonesia sedang berada pada fase pelik suara rakyat kerap dipinggirkan, sementara kebijakan yang merugikan justru menguat. Dalam kondisi ini, tak jarang muncul bias informasi isu bertebaran di mana-mana, dengan narasi yang seringkali membingungkan. Kita dituntut untuk lebih bijak bukan sekadar ikut tren, bukan sekadar ikut ramai, melainkan sadar bahwa diam juga bisa berarti membiarkan kemungkaran semakin meluas. Di sinilah, muslimah pun memiliki peran. Peran yang bukan sekadar ‘ikut-ikutan’ karena FOMO, tetapi karena ada kesadaran bahwa kita memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga prinsip. Tentu, dengan batasan yang jelas, agar sikap kita tetap terarah pada kebenaran, tidak terjebak pada arus kebingungan informasi, dan tetap berpegang pada nilai Islam sebagai kompas utama. Mengambil peran tanpa men...