Ketika kedzaliman dibiarkan, ia akan tumbuh seperti api yang melahap habis. Diamnya orang baik adalah bahan bakar paling cepat bagi hancurnya sebuah negeri.
Indonesia sedang berada pada fase pelik suara rakyat kerap dipinggirkan, sementara kebijakan yang merugikan justru menguat. Dalam kondisi ini, tak jarang muncul bias informasi isu bertebaran di mana-mana, dengan narasi yang seringkali membingungkan. Kita dituntut untuk lebih bijak bukan sekadar ikut tren, bukan sekadar ikut ramai, melainkan sadar bahwa diam juga bisa berarti membiarkan kemungkaran semakin meluas.
Di sinilah, muslimah pun memiliki peran. Peran yang bukan sekadar ‘ikut-ikutan’ karena FOMO, tetapi karena ada kesadaran bahwa kita memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga prinsip. Tentu, dengan batasan yang jelas, agar sikap kita tetap terarah pada kebenaran, tidak terjebak pada arus kebingungan informasi, dan tetap berpegang pada nilai Islam sebagai kompas utama. Mengambil peran tanpa mengabaikan prinsip utama dan batasan-batasan yang telah ditetapkan dalam syari'at menjadi pilihan paling tepat untuk kita jalankan ditengah situasi konflik dan gejolak ketegangan yang mengusik saat ini
Gelombang Ketegangan yang Mengusik Kedamaian
Kita tidak bisa menutup mata bahwa saat ini, Indonesia tengah menghadapi konflik yang sangat serius. Berawal dari ketegangan atas kebijakan-kebijakan yang dianggap mencederai prinsip keadilan dan mempertebal garis kesenjangan sosial yang selama ini menjadi masalah tak berkesudahan di negara ini. Rakyat merasa terkhianati akibat kebijakan kenaikan tunjangan penguasa dan pemangku kekuasan ditengah krisis ekonomi yang justru menjerat mereka. Belum lagi berbagai tuntutan yang seolah-olah membebankan mereka menjadi budak untuk memenuhi hedonisme penguasa yang bahkan tidak mewakilkan suara mereka yang semestinya tersampaikan lewat mereka.
Gelombang kekacauan semakin meningkat setelah rakyat yang menuntut keadilan justru dibalas dengan luka yang menumpahkan darah. Yang katanya bertugas "Melindungi segenap Rakyat Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia" Justru malah menumpahkan darah rakyat kecil yang sedang berjuang melawan kerasnya kehidupan. Tak cukup ditindas kini bahkan rakyat dilindas dengan tidak manusiawi. Seolah-olah nyawa mereka tidak bernilai dibandingkan apa yang mereka suarakan.
Ketegangan sosial, politik dan ekonomi semakin memuncak, seiring munculnya narasi narasi provokatif yang semakin memperkeruh keadaan. Kericuhan menggema diseluruh sudut negeri, letupan api berkobar bagai genderang perang yang sengaja dinyalakan untuk memulai peperangan. Setiap hari ada nyawa yang harus terkorban, luka luka yang saling mengikat membuat seluruh tempat terasa jauh dari keamanan dan ketenangan. Ruang kelas harus dikunci, perekonomian mulai lumpuh dan stabilitas negara semakin terpuruk.
Muslimah dalam Pusaran Konflik: Antara Peran dan Prinsip
Sebagai muslimah, kita diajak turun tangan melalui do'a, nasihat, hingga kontribusi nyata. namun dilain sisi kita juga tetap harus bertahan pada batas nilai dan syari'at yang harus senantiasa kita genggam erat sebagai pegangan utama. Kita mengambil peran sebagai Rakyat, sekaligus manusia yang memiliki hakikat sosial untuk turut mengambil peran dalam setiap kondisi yang menimpa tanah air tempat kita bertumbuh, sebagai amanat yang harus kita jaga kedamaian di dalamnya. Dan kita berperan sebagai muslimah yang diciptakan seperti satu bangunan dengan sesama untuk saling mengingatkan, tolong menolong dan saling menjaga dalam kebaikan.
Saat Indonesia terpecah oleh ancaman otoritarianisme, polarisasi, dan kekerasan, muslimah dipanggil untuk menyuarakan kebaikan tanpa terjebak dalam emosi destruktif. Kita juga membawa prinsip yang menjadi citra diri kita sebagai muslimah yang membawa syi'ar islam dalam setiap gerak yang kita lakukan. Setiap langkah harus senantiasa istiqomah berpijak pada koridor syariat yang mulia.
Peran Muslimah: Menjaga Ruang, Bukan Menyulut Api
Peran kita bukan untuk menjadi provokator, namun bukan pula sekadar penonton. Kita hadir untuk mengambil peran sebagai sumber ketangangan, menyebarkan kedamaian dan kasih sayang dengan fitrah kita diciptakan sebagai makhluk yang senantiasa berdampingan dengan sisi emosional yang tinggi, tanpa mengabaikan rasional tentunya. Memastikan diri kita mampu menghantarkan pesan-pesan yang menyejukkan sekaligus memastikan stabilitas tetap terjaga ditengah gejolak Ini.
Dibalik batas ruang tidak serta merta kita harus terjebak pada ketidakberdayaan, tidak ada alasan untuk mendiamkan kedzaliman dan kekacauan yang semakin meluas. Kita selalu punya ruang dan pilihan untuk bersuara tanpa harus berontak, suara kita bisa tetap terdengar tanpa harus berteriak dengan lantang, dan kita mampu menjadi bagian dari pejuang kebenaran tanpa harus turun secara langsung dan melawan kodrat dan fitrah kita sebagai muslimah. Karna bersuara bukan berarti berontak. Justru sebaliknya kita harus bersuara dan menunjukkan bentuk kontribusi yang nyata tanpa harus mengabaikan batas -batas yang semestinya ada.
Saat masyarakat marah, kita bisa menjadi Ujung tombak sabar,
menyampaikan kritik dengan santun, menenangkan dan bukan membakar perpecahan. Menunjukkan bahwa emosional harus senantiasa tetapa beriringan dengan sisi rasional, menjaga fokus dan tidak tersulut emosi dan ambisi memggebu yang justru akan semakin memperbesar nyala api yang semestinya kita perjuangkan agar segera padam dan menjadi lebih sejuk.
Memfilter informasi: Di tengah disinformasi dan polarisasi media sosial , muslimah bisa jadi penjaga cahaya.
Situasi konflik menimbulkan disinformasi & polarisasi media sosial yang semakin mempekeruh keadaan. Narasi-narasi provokatif sengaja disebarkan untuk mengadu domba satu sama lain. Seolah-olah kita adalah bidak catur yang saling dibenturkan satu sama lain untuk saling melengserkan. Bukan tanpa alasan ketika kita terpecah maka pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab akan lebih mudah mengambil alih kuasa. Tanpa adanya persatuan kita akan dengan mudah terkalahkan dan kedzaliman bisa saja akan memenangkan ambisinya.
Disinilah semestinya kita hadir memberikan parameter untuk memilih dan memilah informasi agar tidak mudah terbawa dan terseret arus-arus kebimbangan. Memastikan kehadiran kita menjadi penengah dan penenang untuk membumikan narasi kedamaian dan persatuan agar tetap kokoh. Mengingatkan untuk senantiasa memadukan dzikir dan fikir sebagai petunjuk dalam bertindak. Melahirkan pesan dan nasihat penuh cinta untuk meredam dan menenggelamkan narasi-narasi provokatif yang berusaha memantik bara api menjadi semakin meluas.
Dari tragedi di berbagai sudut negeri kita wajib menunjukkan solidaritas tanpa harus menyulut kemarahan. Kita hadir untuk mengobati luka dengan empati tanpa membenarkan kekerasan melainkan langkah solutif dan doa untuk perdamaian.
Menjaga Prinsip: Komitmen yang Lebih Tinggi daripada Arus
Syari’at bukan penjara moral, melainkan pelindung. Di tengah riuh tumbangnya simbol keadilan, muslimah bisa mencontoh generasi terdahulu seperti Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berdakwah dengan markup, bukan maki, atau Nusaibah binti Ka’ab yang melindungi nilai tanpa menodainya lewat kekerasan.
Saat ini ketika arus menggempur, kita mau tidak mau juga harus menghadapi fitnah akhir zaman ini tanpa tergelincir, karna disaat kita tergelincir maka dengan mudah kita akan terjebak dan terperangkap pada arus. Prinsip harus tetap menjadi kompas perjuangan ini,
- Prinsip beradab, kita menentang ketidakadilan tapi kita tidak menghalalkan sikap arogan dalam menentang, kita tetap berusaha tenang sebagaimana islam mengajarkan kita untuk bersikap demikian.
- Prinsip menjaga kerukunan meski ideologi berbeda, kita tetap menghormati saudara sesama manusia. Kita tidak bisa memaksakan idealisme kita, tugas kita hanya memastikan kedamaian tetap hidup ditengah-tengah kita.
- Prinsip menghadirkan solusi, bukan semakin menambah luka. tugas kita bukan untuk menjadi hakim, Relativitas benar dan salah bukan menjadi bagian kita, tapi tugas kita adalah memikirkan solusi dan jalan keluar bersama agar segera terjebak dari situasi mencekam ini.
Indonesia tidak hanya butuh suara lantang tapi suara yang menenangkan. Indonesia butuh muslimah yang tetap istiqomah dalam prinsip ketika seluruh negeri berjibaku dengan krisis. Karena saat kita tetap teguh dalam iman, inilah bentuk kontribusi peradaban paling relevan dan paling dibutuhkan saat ini. Dengan do'a dan nasihat yang penuh cinta mari kita saling menguatkan dan bergenggaman tangan memadukan Dzikir dan fikir untuk bersama-sama menemukan cahaya terang yang akan membawa kita keluar dari Gejolak panas yang mencekam dari segala sisi. Anarkis bukan solusi tapi apatis juga bukan pilihan.
Komentar
Posting Komentar