Ketika Perempuan Bangkit, Peradaban Menguat.
Kemerdekaan bukan hanya tentang lepas dari penjajahan fisik, tapi juga tentang kebebasan untuk berdaya dalam batas syari'at.
Euforia kemerdekaan kembali riuh berkumandang dari seluruh pelosok negeri, mengobarkan semangat merah putih yang berkibar di berbagai sudut ruang. Tapi di antara hiruk pikuk perayaan yang bergema tak bisa menutupi kabut hitam yang sedang menyerang kedamainan negeri. Semua orang merasa termasuk golongan kami, para muslimah kepalanya riuh oleh beberapa tanya yang bersahutan : Adakah peran kami dalam merawat dan melanjutkan kemerdekaan ini ? Tersediakah ruang ruang publik yang halal untuk kami isi? Apakah kami boleh turut berkontribusi ditengah konflik dan isu yang merenggut kebebasan dan keamanan kami?
Bagi kami merdeka bukan lagi sekedar kebebasan atas penjajahan fisik semata. Tetapi juga kebebasan untuk turut mengambil peran, mengepakkan sayap, melukiskan mimpi, menorehkan kontribusi dan ruang aman untuk mengekspresikan diri sendiri selayaknya manusia utuh, tanpa harus dihadang oleh batasan ruang yang dibangun di atas struktur patriatki mengatasnamakan batasan syari'at yang disalahmaknakan. Seolah kami seorang muslimah terlalu rumit untuk diturut sertakan dalam konteks-konteks merdeka yang berkontribusi.
Lalu layakkah kami para muslimah menyebutnya sebagai merdeka, bahkan jika kami tak punya ruang sama sekali untuk berdaya dan berkarya, kehadiran kami Senantiasa dibungkam oleh stereotip yang berkembang entah dari mana datangnya.
Seringkali, suara-suara kami para muslimah akan diredam paksa oleh analogi sempit bahwa “pemimpin itu laki-laki” sehingga perempuan tidak punya ruang selain patuh dan tunduk pada perannya sebagai pendukung, seolah-olah seluruh ruang kontribusi digembok paksa bagi kami. Lagi-lagi mengatas namakan syari'at. Lantas lupakah mereka dengan tinta sejarah yang justru banyak menorehkan sejarah emas perjuangan muslimah terdahulu? Dalam memperjuangkan peradaban yang gemilang. Maka demi merdeka yang sejati izinkan kami bersuara untuk merebut kembali beberapa ruang merdeka kami yang terenggut stigma.
Jejak Para Muslimah dalam Sejarah: Keteladanan dalam Kontribusi
Kali ini mari kita mencoba menyingkap kembali tabir ruang sejarah masa lampau untuk sejenak mengenang kembali sosok Khadijah binti Khuwailid, seorang saudagar tangguh, istri Rasulullah ﷺ, Perempuan pertama yang dengan penuh keberanian mendeklarasikan diri dengan penuh kebanggaan sebagai seorang muslimah. Kita mengenangnya bukan hanya sekedar sebagai muslimah atau sosok istri dari manusia yang paling mulia, namun juga sebagai sosok yang setia menopang dakwah dengan harta dan keyakinan yang senantiasa bertambah hingga akhir nafasnya, bahkan beliau juga menjadi salah satu sosok paling berpengaruh dalam membangun sejarah islam saat ini bermodalkan keberanian dalam mengambil keputusan.
Diversi yang lain kita mengenal sosok mulia Aisyah binti Abu Bakar, berkontribusi besar dalam khazanah ilmu pengetahuan lewat kontribusi nya yang menjadi rujukan utama dalam ilmu hadits dan fiqh, bahkan dengan usianya yang masih belia beliau mampu mengambil peran untuk menyebarkan dakwah islam di zamannya hingga hari ini. Beliau adalah salah satu figur muslimah yang dihormati dengan intelektual dan keberaniannya dalam mengambil keputusan dan melahirkan karya-karya sejarah yang sampai hari ini menjadi rujukan bagi kita para muslimah.
Lalu, kita coba bergeser ke masa perjuangan bangsa ini, kita mengenal Cut Nyak Dhien Cut Meutia, dan Rahmah El-Yunusiyyah. Mereka memperjuangkan tanah, pendidikan, dan akidah. Rahmah, misalnya, mendirikan Diniyyah School di Padang Panjang pada tahun 1911. Sekolah yang awalnya hanya untuk perempuan ini kelak menjadi inspirasi lahirnya lembaga pendidikan Islam modern. Mereka hanya segelintir contoh dari sekian banyaknya tokoh-tokoh tak tercatat namanya namun turut mencatutkan kontribusi nyata dalam memperjuangkan merdeka hari ini. Mereka tak hanya menjadi simbol perlawanan kaum perempuan terhadap penjajahan, tapi juga sebagai bara api untuk menyalakan semangat perjuangan. Bukan sekedar dalam batasan kodrat yang tercipta dari paradigma kuno bahwa ruang gerak perempuan hanya di Sumur, di dapur dan di kasur. Mereka menunjukkan bahwa perempuan juga mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kehormatan dan memperjuangkan hak mereka.
Semestinya, ruang kontribusi itu terbentang luas bukan lagi soal jenis kelamin yang sejatinya hanya batasan yang dibangun di atas pondasi budaya patriarki yang masih mengakar luas. Kontribusi adalah ruang luas dan bebas yang berakar dari keberanian, ketulusan, dan pemahaman tentang makna perjuangan yang sejati.
Ruang yang Masih Dicari :Antara Syari’at dan Stereotip
Nyatanya, hingga detik ini sebagai seorang muslimah, kita masih harus terus berjuang mencari makna merdeka di negeri yang katanya telah lama merdeka ini. Kita bahkan kesulitan untuk sekedar menemukan ruang bebas untuk berekspresi dan bersuara tanpa harus dihakimi oleh opini-opini yang terlontar dengan tajam. Ketika kita mencoba menyampaikan ide/gagasan kita dibungkam dengan statmen lancang dan membangkang. Atau bahkan ketika kita mencoba menjadi bagiaan dan tutut aktif mengambil peran sosial kita dianggap menyelisihi kodrat yang semestinya.
Padahal, bukan syari'at yang membungkam dan mengekang muslimah untuk turut aktif dan bergerak. Sebab sejatinya kehadiran syari'at justru untuk memuliakan derajat muslimah, mengatur agar mereka tetap mampu berduara dan berkontribusi tanpa merusak dan merendahkan martabat dan kehormatan dirinya. Sayangnya, Ruang itu ada tapi kadang dipersempit oleh budaya patriarki yang terlanjur mengakar lalu dibalut atas nama agama.
Kemerdekaan sejati bagi muslimah adalah ketika ia bisa menjadi bagian dari peradaban, tanpa harus meninggalkan jati diri dan nilai-nilai Islam. Ketika kita tidak lagi harus memilih antara keluarga atau kontribusi, antara diam atau dituduh. Ketika kita mampu bersuara dengan tenang tanpa harus dibungkam dengan hujatan yang lantang.
Namun hari ini, manusia masuh terus terjebak dalam batasan tafsir-tafsir sosial yang mempersempit peran muslimah untuk berdaya dan berkarya. Stigma bahwa tuang berbicara dan berkarya hanya milik laki-laki atas nama kepemimpinan yang berbalut Otoritas Masih terus mengakar kuat di lingkungan kita saat ini. Perempuan harus senantiasa menurut dan diam meredam mimpi dan pikirannya atas nama kodrat dan ketaatan.
Padahal Islam tak pernah melarang perempuan berkontribusi. Yang menjadi batas adalah syari’at, bukan stereotip. Seorang muslimah boleh untuk terus berkarya dan berdaya dengan bebas lewat ruang-ruang aman yang semestinya diciptakan untuk mereka. Muslimah bebas memilih ruang geraknya, mungkin dengan menjadi pendidik, penulis, relawan, bahkan pemimpin dalam konteks yang dibolehkan syariat.
Kemerdekaan Sejati adalah Bisa Berkarya dalam Batas Syariat
Menjadi muslimah bukan berarti diam, tapi bukan pula berarti melawan kodrat. Keduanya bukan pilihan mutlak tapi dia sisi yang mampu saling berjalan beriringan, antara ta'at dalam syari'at, dan berkarya bagi peradaban. Justru dalam kesadaran akan posisinya, seorang muslimah bisa menemukan titik terkuatnya untuk berperan. Muslimah berhak membangkitkan potensinya sebagai amanah untuk menjadi peluang menjalankan syi'ar dakwah dengan potensi terbaiknya. Entah lewat karya-karya seperti tulisan, lewat pendidikan, atau bahkan lewat pergerakan sosial yang mampu membuatnya bertumbuh bersama tanpa harus menyalahi fitrah yang telah ditetapkan dalam penciptaan-Nya.
Kemerdekaan yang sejati itu sesederhana kebebasan berekspresi bagi muslimah untuk berdaya dan berkarya tanpa harus terbatasi oleh pakaian syar'i yang menjadi identitas sejatinya, Kebebasan untuk bersuara tanpa harus mengesampingkan etika dan adab yang menjadi perhiasan sejatinya. Serta kemampuan untuk terus bertumbuh sembari tetap menjaga Iman, Izzah dan Iffah yang menjadi tanggungjawab utamanya.
Merdeka itu bukan berarti bebas sebebas-bebasnya tanpa mengenal batasan. Tapi membiarkan batasan itu sebagai pelindung dan perisai bukan justru menjadi tekanan dan kurungan. Memberikan mereka peluang untuk memilih kebaikan yang mampu diperjuangkan, dan mengambil peran terbaik dalam mengembalikan peradaban yang gemilang.
Kini Saatnya: Merdeka dan Bermakna
Kemerdekaan bukan hanya tentang kibaran bendera di langit, tapi tentang bangkitnya kesadaran bahwa setiap jiwa memiliki peran. Termasuk muslimah. Terutama muslimah.
Menjadi muslimah bukan berarti kita hanya diam di balik tabir. Tapi juga tentang bagaimana dari balik tabir itu, kita tetap bisa menulis, berpikir, berdakwah, menginspirasi, mendidik, bahkan memimpin dalam ruang yang syar’i.
Negeri ini butuh muslimah yang cerdas dan tangguh. Yang tidak silau oleh gemerlap dunia, tapi juga tidak kaku hingga lupa bahwa Islam hadir sebagai rahmat. Yang menjadikan rumah tangga sebagai madrasah, dan dunia sebagai ladang amal.
Maka mari kita terus mencari dan menciptakan ruang. Bukan untuk menyaingi laki-laki. Tapi untuk saling menopang membangun peradaban.
Karena kemerdekaan adalah milik semua. Juga milik muslimah.

Komentar
Posting Komentar