Peranan sebagai Rahim peradaban bukanlah suatu hal yang mudah tentunya. Ada tanggung jawab yang amat besar dalam menjalankan pernan ini. Apalagi melihat kondisi Akhir zaman yang semakin pesat dengan arus perkembangan ilmu pengetahuan yang kian pesat. Semakin banyak tuntutan dan tanggungjawab besar bagi seorang muslimah masa kini. Tuntutan agar senantiasa kokoh berjalan diatas syari'at islam. Hingga tanggungjawab untuk tetap tegak membawa citra islam ditengah pesatnya arus moderenisasi yang berlangsung.
Jika melirik kembali sejarah masa lalu, maka dapat kita saksikan bagaimana muslimah memegang peranan besar dalam membangun dan mempertahankan Peradaban Islam agar tetap tegak hingga saat ini. Sebagaimana kisah para ulama yang mulia, mereka semua lahir dari rahim-rahim mulia para penuntut ilmu. Juga para syuhada' yang terlahir dari rahim mulia para mujahidah. Muslimah yang senantiasa berjuang melahirkan Generasi-generasi emas itu bukanlah Muslimah yang biasa-biasa saja. Merekalah para Sahabiyyah yang mulia, Para Tholabul Ilmi yang setia.
Sebuah pandangan yang amat keliru jika menganggap bahwa islam hanya menempatkan wanita sebagai "Penghasil" Generasi pelanjut. Sebab mereka adalah "Pencetak" Generasi mulia. Mendidik dengan takwa dan cinta bukanlah suatu perjuangan yang muda adanya. Perlu perjuangan "Raga dan Rasa" yang amat besar. Dengan indahnya kasih sayang yang Allah titipkan padanya, seorang muslimah mampu mencetak mujahid tangguh untuk agama ini. Itulah sebabnya islam hadir untuk mengangkat dan memuliakan wanita. Jika wanita pada masa Jahiliyyah dianggap sebagai hiasan sesaat, maka islam hadir untuk memuliakan kedudukan wanita. Membawa sebuah pesan bahwa sejatinya tidak ada yang membedakan derajat laki-laki maupun perempuan melainkan ketakwaannya.
Bahkan islam mengistimewakan wanita muslimah dengan satu surah khusus yang berarti wanita (An-Nisa). Rasanya memang amat keliru ketika seorang membangun stigma bahwa islam mengekang kebebasan muslimah untuk bertumbuh dan berkembang. Bahwa seorang muslimah yang menjalankan syari'at adalah orang-orang yang terbelakang dan tidak punya ruang untuk berkarya. Nyatanya saat ini kita saksikan betapa banyak muslimah-muslimah yang menunjukkan eksistensinya tanpa harus menanggalkan identitas islam dalam dirinya. Dengan kemajuan teknologi memang sudab seyogyanya muslimah mampu memanfaatkan ruang untuk berkarya dan maju selayaknya kaum laki-laki.
Ironisnya saat ini yang menjadi tantangan muslimah justru lahir dari stigma yang berkembang dikalangan umat islam itu sendiri. Betapa banyak pandangan yang mengatakan "Pendidikan tinggi itu tidak penting bagi seorang muslimah, karna mereka diciptakan untuk menjadi istri yang hanya akan menghabiskan waktunya di dalam rumah" dan sejatinya pandangan tersebut sama sekali tidak salah. Sebab itu menjadi fitrah dan kemulian seorang muslimah. Namun, menafsirkan kalimat ini banyak sekali menimbulkan kekeliruan, sebab menjadi ibu justru butuh ilmu yang lebih luas, wawasan lebih terbuka dan pemahaman yang lebih tinggi. Maka yang paling harus dididik adalah wanita, sebagai madrasah/sekolah pertama bagi anak-anaknya kelak.
Islam adalah agama yang dinamis, senantiasa mengikuti arus perkembangan zaman,tentunya tetap dengan membawa nilai-nilai syari'at sebagai pegangan utama. Namun, selagi itu bermanfaat maka tidak ada alasan untuk tidak mengambil bagian, termasuk pendidikan bagi seorang muslimah. Ada pandangan yang mengatakan bahwa "semakin tinggi pendidikan seorang muslimah, semakin sulit menyelarasakannya dengan nilai-nilai syari'at" padahal sejatinya pendidikan yang berkualitas justru akan menuntun pemikiran seseorang untuk lebih mudah dalam mengikuti kebenaran dan kebaikan.
Sistem pendidikan saat ini juga sudah sangat beragam, dan cukup memudahkan muslimah turut andil dalam segala aspek didalamnya. Menjadi muslimah berpendidikan adalah sebuah keharusan, sebab tantangan generasi yang akan ditemui juga semakin besar di masa mendatang. Jika tidak disiapkan sejak sekarang akan terjadi kesenjangan antar generasi. Tidak ada batasan dalam pendidikan untuk menutup ruang bagi seorang muslimah menjadi berprestasi dan berpendidikan tinggi.
Lalu bagaimana dengan pandangan "Perempuan berpendidikan tinggi akan sulit mendapatkan jodoh?" Sebuah pembahasan menarik yang akan dibahas juga ditulisan selanjutnya. Intinya perspektif seseorang dalam memandang setiap situasi itu berbeda. Dan tugas kita adalah membuka Pikiran lebih luas lagi. Bahwa pendidikan dan syari'at bukanlah sesuatu yang tidak dapat disatukan. Jadilah muslimah berprestasi dan berpendidikan tinggi. Karna kunci generasi Madani dan peradaban yang gemilag berada pada muslimah sebagai rahim peradaban.
Ditulisan kali ini kita akan mulai dengan menjawab pertanyaan, kenapa sih pendidikan itu penting? Yups karna pendidikan yang baik akan menghasilkan kualitas pemikiran dan tingkah laku yang baik pula. Pemikiran yang berkualitas akan melahirkan generasi yang berkualitas pula tentunya. Sayangnya zaman sekarang kita terlalu banyak dipengaruhi dengan pemikiran-pemikiran negatif tentang dunia pendidikan. Bukankah yang rusak itu seharusnya diperbaiki? Kita semua setuju dengan hal ini. Akan tetapi, Alih-alih memikirkan solusi perbaikan kita justru memilih menyimpulkan kalau begitu tidak perlu memempuh pendidikan toh akhirnya hanya akan menimbulkan permasalahan juga akhirnya.
Pernah tidak kita berpikir lalu jika terus seperti ini apakah benar kita sudah menemukan solusi atau justru memperparah keadaan? Dan fokus utama yang akan kita bahas kali ini adalah tentang muslimah dan pendidikan, beberapa orang disekitarku, mungkin juga disekitar kita mengatakan "Pendidikan bagi muslimah tidak sepenting itu, karna dalam islam tugas muslimah adalah taat dan beribadah saja" Hal yang tidak mungkin kita pungkiri karna pada hakikatnya tugas manusia memang hanya beribadah bukan? Tidak hanya muslimah tapi seluruh muslim diciptakan hanya untuk beribadah dan taat. Tapi... Kita lupa mungkin kalau taat butuh ilmu, Taat seperti apa yang bisa kita persembahkan jika tanpa ilmu. Bukankah tanpa ilmu ibadah-ibadah itu hanya akan menjadi ritual rutin semata?
Lagi-lagi kita terlalu senang mempersempit makna pendidikan, berpendidikan juga tidak melulu tentang jenjang formal saja. Setiap ruang yang kita lalui sehari-hari adalah sekolah kehidupan, dan setiap pelajaran yang kita ambil adalah ilmu. Entah pendidikan formal maupun tidak tentunya pendidikan ini penting bagi muslimah. Pengalaman yang dilalui akan menjadi guru terbaik. Miris sekali rasanya melihat ruang belajar muslimah yang dibatasi dengan alasan yang kadang terlalu tidak rasional, takut muslimah jadi kehilangan fitrahnya untuk didik, menjatuhkan muru'ah laki-laki sebagai pemimpin, dan bahkan katanya muslimah berpendidikan akan sulit untuk diarahkan (kasarnya suka "ngeyel")
Inilah salah satu budaya buruk di sekitar kita, kebiasaan untuk mengeneralisir sesuatu hanya berdasarkan "katanya", juga pemikiran dangkal untuk membatasi diri pada masalah tanpa berpikir solusinya apa? Sebenarnya kita tidak harus memotong sebatang pohon hanya karna sehelai daun yang rusak, begitupun dengan permasalahan diatas, jika ditemukan masalah dengan hadirnya muslimah maka yang perlu diperbaiki adalah konsep berpikir, perbaikan sistem dan pola didik yang baik. Bukan serta merta membatasi ruang gerak mereka untuk tidak mengakses pendidikan.
Sekali lagi pendidikan di sini bukan tentang gelar, tapi melihat berbagai permasalahan yang hadir di zaman sekarang ini, pendidikan yang berkualitas menjadi muslimah harusnya menjadi perhatian besar yang perlu untuk diperhatikan dan diprioritaskan. Jika tidak sekarang lalu kapan lagi? Setidaknya dimulai dari diri kita sendiri.
Pendidikan itu sesederhana memberikan akses membaca bagi muslimah, memperluas akses kajian via online maupun secara langsung, atau bahkan menjadi sosok pasangan atau orang tua yang selalu siap membimbing dan memberi khasanah ilmu bagi muslimah setiap harinya.
Komentar
Posting Komentar