Langsung ke konten utama

Arti Penting Pendidikan Sebagai Rahim Peradaban di Era Milenial

Muslimah adalah Rahim sekakigus tonggak peradaban yang gemilang. Darinya lahir sosok-sosok pelanjut yang akan menjadi tombak-tombak perjuangan demi kebangkitan peradaban islam. Dalam islam ditegaskan bahwa kedudukan seorang muslimah teramat mulia. Dari merekalah lahir generasi-generasi pelanjut yang senantiasa mengokohkan barisan perjuangan Islam. Cerminan dari suatu Peradaban bisa terlihat dari para wanitanya, begipula dengan islam. Jati diri peradaban islam masa kini dapat tercermin dari para muslimahnya hari ini. Jika kondisi muslimah senantiasa kokoh dalam keistiqomahan maka akan kokoh pula peradaban itu. Namun jika jati diri muslimah telah hilang digerus zaman, maka akan semakin besar kemunduran islam itu terjadi.

Peranan sebagai Rahim peradaban bukanlah suatu hal yang mudah tentunya. Ada tanggung jawab yang amat besar dalam menjalankan pernan ini. Apalagi melihat kondisi Akhir zaman  yang semakin pesat dengan arus perkembangan ilmu pengetahuan yang kian pesat. Semakin banyak tuntutan dan tanggungjawab  besar bagi seorang muslimah masa kini. Tuntutan agar senantiasa kokoh berjalan diatas syari'at islam. Hingga tanggungjawab untuk tetap tegak membawa citra islam ditengah pesatnya arus moderenisasi yang berlangsung.

Jika melirik kembali sejarah masa lalu, maka dapat kita saksikan bagaimana muslimah memegang peranan besar dalam membangun dan mempertahankan Peradaban Islam agar tetap tegak hingga saat ini. Sebagaimana kisah para ulama yang mulia, mereka semua lahir dari rahim-rahim mulia para penuntut ilmu. Juga para syuhada' yang terlahir dari rahim mulia para  mujahidah. Muslimah yang senantiasa berjuang melahirkan Generasi-generasi emas itu bukanlah Muslimah yang biasa-biasa saja. Merekalah para Sahabiyyah yang mulia, Para Tholabul Ilmi yang setia. 

Sebuah pandangan yang amat keliru jika menganggap bahwa islam hanya menempatkan wanita sebagai "Penghasil" Generasi pelanjut. Sebab mereka adalah "Pencetak" Generasi mulia. Mendidik dengan takwa dan cinta bukanlah suatu perjuangan yang muda adanya. Perlu perjuangan "Raga dan Rasa" yang amat besar. Dengan indahnya kasih sayang yang Allah titipkan padanya, seorang muslimah mampu mencetak mujahid tangguh untuk agama ini. Itulah sebabnya  islam hadir untuk mengangkat dan memuliakan wanita. Jika wanita pada masa Jahiliyyah dianggap sebagai hiasan sesaat, maka islam hadir untuk memuliakan kedudukan wanita. Membawa sebuah pesan bahwa sejatinya tidak ada yang membedakan derajat laki-laki maupun perempuan melainkan ketakwaannya.

Bahkan islam mengistimewakan wanita muslimah dengan satu surah khusus yang berarti wanita (An-Nisa). Rasanya memang amat keliru ketika seorang membangun stigma bahwa islam mengekang kebebasan muslimah untuk bertumbuh dan berkembang. Bahwa seorang muslimah yang menjalankan syari'at adalah orang-orang yang terbelakang dan tidak punya ruang untuk berkarya. Nyatanya saat ini kita saksikan betapa banyak muslimah-muslimah yang menunjukkan eksistensinya tanpa harus menanggalkan identitas islam dalam dirinya. Dengan kemajuan teknologi memang sudab seyogyanya muslimah mampu memanfaatkan ruang untuk berkarya dan maju selayaknya kaum laki-laki. 

Ironisnya saat ini yang menjadi  tantangan muslimah justru lahir dari stigma yang berkembang dikalangan umat islam itu sendiri. Betapa banyak pandangan yang mengatakan "Pendidikan  tinggi itu tidak penting bagi seorang muslimah, karna mereka diciptakan untuk menjadi istri yang hanya akan menghabiskan waktunya di dalam rumah"  dan sejatinya pandangan tersebut sama sekali tidak salah. Sebab itu menjadi fitrah dan kemulian seorang muslimah. Namun, menafsirkan kalimat ini banyak sekali menimbulkan kekeliruan, sebab menjadi ibu justru butuh ilmu yang lebih luas, wawasan lebih terbuka dan pemahaman yang lebih tinggi. Maka yang paling harus dididik adalah wanita, sebagai madrasah/sekolah pertama bagi anak-anaknya kelak.

Islam adalah agama yang dinamis, senantiasa mengikuti arus perkembangan zaman,tentunya tetap dengan membawa nilai-nilai syari'at sebagai pegangan utama. Namun, selagi itu bermanfaat maka tidak ada alasan untuk tidak mengambil bagian, termasuk pendidikan bagi seorang muslimah. Ada pandangan yang mengatakan bahwa "semakin tinggi pendidikan seorang muslimah, semakin sulit menyelarasakannya dengan nilai-nilai syari'at"  padahal sejatinya pendidikan yang berkualitas  justru akan menuntun pemikiran seseorang untuk lebih mudah dalam mengikuti kebenaran dan kebaikan. 

Sistem pendidikan saat ini juga sudah sangat beragam, dan cukup memudahkan  muslimah turut andil dalam segala aspek didalamnya. Menjadi  muslimah berpendidikan adalah sebuah keharusan, sebab tantangan generasi yang akan ditemui juga semakin besar di masa mendatang. Jika tidak disiapkan sejak sekarang akan terjadi kesenjangan antar generasi. Tidak ada batasan dalam pendidikan untuk menutup ruang bagi seorang muslimah menjadi berprestasi dan berpendidikan tinggi.

Lalu  bagaimana dengan pandangan "Perempuan berpendidikan tinggi akan sulit mendapatkan jodoh?" Sebuah pembahasan menarik yang akan dibahas juga ditulisan selanjutnya. Intinya perspektif seseorang dalam memandang setiap situasi itu berbeda. Dan tugas kita adalah membuka Pikiran lebih luas lagi. Bahwa pendidikan dan syari'at bukanlah sesuatu yang tidak dapat disatukan. Jadilah muslimah berprestasi dan berpendidikan tinggi. Karna kunci generasi Madani dan peradaban yang gemilag berada pada muslimah sebagai rahim peradaban.

Ditulisan kali ini kita akan mulai dengan menjawab pertanyaan, kenapa sih pendidikan itu penting? Yups karna pendidikan yang baik akan menghasilkan kualitas pemikiran dan tingkah laku yang baik pula. Pemikiran yang berkualitas akan melahirkan generasi yang berkualitas pula tentunya. Sayangnya zaman sekarang kita terlalu banyak dipengaruhi dengan pemikiran-pemikiran negatif tentang dunia pendidikan. Bukankah yang rusak itu seharusnya diperbaiki? Kita semua setuju dengan hal ini. Akan tetapi, Alih-alih memikirkan solusi perbaikan kita justru memilih menyimpulkan kalau begitu tidak perlu memempuh pendidikan toh akhirnya hanya akan menimbulkan permasalahan juga akhirnya. 

Pernah tidak kita berpikir lalu jika terus seperti ini apakah benar kita sudah menemukan solusi atau justru memperparah keadaan? Dan fokus utama yang akan kita bahas kali ini adalah tentang muslimah dan pendidikan, beberapa orang disekitarku, mungkin juga disekitar kita  mengatakan "Pendidikan bagi muslimah tidak sepenting itu, karna dalam islam tugas muslimah adalah taat dan beribadah saja"  Hal yang tidak mungkin kita pungkiri karna pada hakikatnya tugas manusia memang hanya beribadah bukan? Tidak hanya muslimah tapi seluruh muslim diciptakan hanya untuk beribadah dan taat. Tapi... Kita lupa mungkin kalau taat butuh ilmu, Taat seperti apa yang bisa kita persembahkan jika tanpa ilmu.  Bukankah tanpa ilmu ibadah-ibadah itu hanya akan menjadi ritual rutin semata? 

Lagi-lagi kita terlalu senang mempersempit makna pendidikan, berpendidikan juga tidak melulu tentang jenjang formal saja. Setiap ruang yang kita lalui sehari-hari adalah sekolah kehidupan, dan setiap pelajaran yang kita ambil adalah ilmu. Entah pendidikan formal maupun tidak tentunya pendidikan ini penting bagi muslimah. Pengalaman yang dilalui akan menjadi guru terbaik. Miris sekali rasanya melihat ruang belajar muslimah yang dibatasi dengan alasan yang kadang terlalu tidak rasional, takut muslimah jadi kehilangan fitrahnya untuk didik, menjatuhkan muru'ah laki-laki sebagai pemimpin, dan bahkan katanya muslimah berpendidikan akan sulit untuk diarahkan (kasarnya suka "ngeyel") 

Inilah salah satu budaya buruk di sekitar  kita, kebiasaan untuk mengeneralisir sesuatu hanya berdasarkan "katanya", juga pemikiran dangkal untuk membatasi diri pada masalah tanpa berpikir solusinya apa? Sebenarnya kita tidak harus memotong sebatang pohon hanya karna sehelai daun  yang rusak, begitupun dengan permasalahan diatas, jika ditemukan masalah dengan hadirnya muslimah maka yang perlu diperbaiki adalah konsep berpikir, perbaikan sistem dan pola didik yang baik. Bukan serta merta membatasi ruang gerak mereka untuk tidak mengakses pendidikan. 

Sekali lagi pendidikan di sini bukan tentang gelar, tapi melihat berbagai permasalahan yang hadir di zaman sekarang ini, pendidikan yang berkualitas menjadi muslimah harusnya menjadi perhatian besar yang perlu untuk diperhatikan dan diprioritaskan. Jika tidak sekarang lalu kapan lagi? Setidaknya dimulai dari diri kita sendiri. 

Pendidikan itu sesederhana memberikan akses membaca bagi muslimah, memperluas akses kajian via online maupun secara langsung, atau bahkan menjadi sosok pasangan atau orang tua yang selalu siap membimbing dan memberi khasanah ilmu bagi muslimah setiap harinya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Harus Setara? Antara Mencari dan Menjadikan diri Setara

Kenapa Harus Setara? Mencari Keseimbangan, Bukan Kesamaan  Karna setara tak selamanya harus sama rata, kadang kita butuh sisi yang lebih berat atau lebih ringan untuk menyeimbangkan neracanya Dalam pusaran kehidupan yang terus berputar, kita kerap kali disibukkan dengan pencarian sosok yang "setara"  entah dalam latar belakang pendidikan, kedalaman pemikiran, visi hidup, atau bahkan cara berkomunikasi. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: sudahkah kita sendiri menjadi cerminan dari kesetaraan yang kita dambakan itu? Konsep kesetaraan seringkali disalahartikan sebagai kesamaan mutlak. Padahal, setara bukan melulu soal identitas yang persis sama, melainkan tentang bagaimana dua individu dapat saling tumbuh, menghargai, dan memiliki keberanian untuk memahami satu sama lain, bukan untuk mendominasi. Kesetaraan sejati bukanlah replikasi, melainkan keseimbangan yang dinamis, seperti sebuah neraca yang menemukan titik ekuilibriumnya meskipun beban di kedua sisinya mu...

Anak Bukan Penawar Luka: Pentingnya Kecerdasan Emosional Sebelum Menjadi Ibu

Pentingnya Kecerdasan Emosional Sebelum Menjadi Ibu  Banyak orang tua terutama ibu tak sadar membesarkan trauma, bukan anak Kalimat ini barangkali terdengar menohok, tapi juga sangat nyata. Dalam diam, banyak anak tumbuh di bawah bayang-bayang luka yang bukan miliknya. Mereka besar untuk menjadi pelipur lara bagi masa lalu orang tuanya. Mereka dibentuk bukan demi masa depan mereka sendiri, tapi untuk membayar kegagalan cinta yang tak selesai, mimpi yang tak tercapai, atau kemarahan yang tak pernah diredakan. Alih-alih mendidik anak sebagai individu merdeka, banyak orang tua terutama ibu secara tidak sadar menanamkan luka masa kecilnya ke dalam pola asuh. Anak dipaksa sempurna agar bisa membuktikan bahwa ibunya dulu tak sepenuhnya gagal. Anak dipaksa patuh bukan karena cinta, tapi karena dulu sang ibu tak pernah diberi ruang untuk bicara. Anak dilarang menangis, karena dulu sang ibu harus belajar menahan tangis demi terlihat kuat. Anak akhirnya tumbuh bukan sebagai pribadi, tapi seb...

Kemerdekaan, Muslimah, dan Ruang yang Masih Dicari

  Ketika Perempuan Bangkit, Peradaban Menguat.  Kemerdekaan bukan hanya tentang lepas dari penjajahan fisik, tapi juga tentang kebebasan untuk berdaya dalam batas syari'at.    Euforia kemerdekaan kembali riuh berkumandang dari seluruh pelosok negeri, mengobarkan semangat merah putih yang berkibar di berbagai sudut ruang.  Tapi di antara hiruk pikuk perayaan yang bergema tak bisa menutupi kabut hitam yang sedang menyerang kedamainan negeri. Semua orang merasa termasuk golongan kami, para muslimah kepalanya riuh oleh beberapa tanya yang bersahutan : Adakah  peran kami dalam merawat dan melanjutkan kemerdekaan ini ? Tersediakah ruang ruang publik yang halal untuk kami isi? Apakah kami boleh turut berkontribusi ditengah konflik dan isu yang merenggut kebebasan dan keamanan kami?  Bagi kami merdeka bukan lagi sekedar kebebasan atas penjajahan fisik semata. Tetapi  juga kebebasan untuk turut mengambil peran, mengepakkan sayap, melukiskan mimpi, menorehk...